Tampilkan postingan dengan label Capres. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Capres. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 September 2014

Soekarno, Proklamator dan Penggali Pancasila *)

Ir. Soekarno, lahir di Lawang
Seketeng, Surabaya, Jawa Timur 6 Juni 1901. Ayahnya bernama Raden Soekemi
Sosrodihardjo (Probolinggo, Jawa Timur) dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai (Singgaraja,
Bali). Meninggal di Wisma Yaso, Jakarta 21 Juni 1970, Adalah Presiden Indonesia
pertama yang menjabat pada periode 1945 - 1966. Ia memainkan peranan penting
untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah penggali
Pancasila. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad
Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.

Nama lengkap Soekarno ketika
lahir adalah Kusno Sosrodihardjo. Ketika masih kecil, karena sering
sakit-sakitan, menurut kebiasaan orang Jawa; oleh orang tuanya namanya diganti
menjadi Soekarno. Di kemudian hari ketika menjadi Presiden R.I., ejaan nama
Soekarno diganti olehnya sendiri menjadi Sukarno karena menurutnya nama tersebut
menggunakan ejaan penjajah (Belanda). Ia tetap menggunakan nama Soekarno dalam
tanda tangannya karena tanda tangan tersebut adalah tanda tangan yang tercantum
dalam Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tidak boleh diubah.

Kemudian, beliau merumuskan
ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli
1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda, memasukkannya ke
penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru
disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, beliau menunjukkan
kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu.

Pembelaannya itu membuat Belanda
makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada
tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya.
Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun
1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.

Setelah melalui perjuangan yang
cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17
Agustus 1945. Dalam siding BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir.Soekarno mengemukakan
gagasan tentang dasar negara yang disebutnya Pancasila. Tanggal 17 Agustus 1945,
Ir Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai
Presiden Republik Indonesia yang pertama.

Sebelumnya, beliau juga berhasil
merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan Soekarno
berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan
Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi
Gerakan Non Blok.

Ia menerbitkan Surat Perintah 11
Maret 1966 Supersemar yang kontroversial itu, yang konon, antara lain isinya
adalah menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga
kewibawaannya. Tetapi Supersemar tersebut disalahgunakan oleh Letnan Jenderal
Soeharto untuk merongrong kewibawaannya dengan jalan

menuduhnya ikut mendalangi
Gerakan 30 September. Tuduhan itu menyebabkan Majelis Permusyawaratan Rakyat
Sementara yang anggotanya telah diganti dengan orang yang pro Soeharto,
mengalihkan kepresidenan kepada Soeharto.


Latar belakang dan pendidikan


Soekarno dilahirkan dengan nama
Kusno Sosrodihardjo. Ayahnya bernama Raden Sukemi Sosrodihardjo, seorang guru di
Surabaya, Jawa. Ibunya berasal dari Bali. Ibunya, menceritakan makna kelahiran
di waktu fajar. "Kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi
pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di
saat fajar mulai menyingsing. Kita orang Jawa mempunyai suatu kepercayaan, bahwa
orang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan
terlebih dulu. Jangan lupakan itu, jangan sekali-kali kau lupakan, nak, bahwa
engkau ini putra dari sang fajar." (Adams, 2000:24)

Tanggal kelahiran Soekarno pun
dipandangnya sebagai pertanda nasib baik. "Hari lahirku ditandai oleh angka
serba enam. Tanggal enam bulan enam. Adalah menjadi nasibku yang paling baik
untuk dilahirkan dengan bintang Gemini, lambang kekembaran. Dan memang itulah
aku sesungguhnya. Dua sifat yang berlawanan." (Adams, 2000:25)

Soekarno melihat dirinya yang
terdiri dari dua sifat yang berlawanan sebagai satu kemungkinan pertanda
nasibnya di dunia politik. "Karena aku terdiri dari dua belahan, aku dapat
memperlihatkan segala rupa, aku dapat mengerti segala pihak, aku memimpin semua
orang. Boleh jadi ini secara kebetulan bersamaan. Boleh jadi juga pertanda lain.
Akan tetapi kedua belahan dari watakku itu menjadikanku seseorang yang merangkul
semua-nya." Kejadian lain yang dianggap pertanda nasib oleh Soekarno adalah
meletusnya Gunung Kelud saat ia lahir. Tentang ini ia menyatakan, "Orang yang
percaya kepada takhayul meramalkan, 'Ini adalah penyambutan terhadap bayi
Soekarno," Selain itu, penjelasan tentang penggantian nama Kusno menjadi Karno
pun memberi satu mitos lagi dalam diri Soekarno kecil tentang dirinya sebagai
calon pejuang dan pahlawan bangsanya. Kepercayaan akan pertanda-pertanda yang
muncul di hari kelahiran Soekarno memberi semacam gambaran masa depan dalam
benak Soekarno sejak masa kecilnya. Dalam kerangka pemikiran Adler, gambaran
masa depan itu disebut fictional final goals (tujuan akhir fiktif). Meskipun
fiktif (tak didasari kenyataan), tetapi gambaran masa depan ini berperan
menggerakkan kepribadian manusia untuk mencapai kondisi yang tertuang di
dalamnya (Adler, 1930:400). Riwayat hidup Soekarno memperlihatkan bagaimana
gambaran dirinya di masa depan dan persepsinya tentang Indonesia menggerakkannya
mencapai kemerdekaan Indonesia. Ketika kecil Soekarno tinggal bersama kakeknya
di Tulungagung, Jawa Timur. Pada usia 14 tahun, seorang kawan bapaknya yang
bernama Oemar Said Tjokroaminoto mengajak Soekarno tinggal di Surabaya dan
disekolahkan ke Hoogere Burger School (H.B.S.) di sana. Di Surabaya, Soekarno
banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin
Tjokroaminoto saat itu. Soekarno kemudian bergabung dengan organisasi Jong Java
(Pemuda Jawa). Tamat H.B.S. tahun 1920, Soekarno melanjutkan ke Technische Hoge
School (sekarang ITB) di Bandung, dan tamat pada tahun 1925. Saat di Bandung,
Soekarno berinteraksi dengan Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker, yang
saat

itu merupakan pemimpin
organisasi National Indische Partij. Soekarno sebagai ideolog yang piawai
menyebarkan kepercayaan-kepercayaannya. Strategi penyebaran ideologi yang oleh
Terry Eagleton (1991) terdiri dari rasionalisasi, universalisasi, dan
naturalisasi, dengan baik dimanfaatkan Soekarno dalam tulisan-tulisannya.
Rasionalisasi tampil dalam argumentasi-argumentasi yang diusahakan tersusun
selogis mungkin dan menggunakan rujukan-rujukan teori-teori ilmuwan terkemuka
seperti Herbert Spencer, Havelock Ellis, dan Ernst Renan. Rasionalisasi dapat
ditemukan dalam setiap karangannya, termasuk penggunaan data statistik demi
memperkuat pendapatnya. Strategi universalisasi dalam tulisan dan karangan
Soekarno melibatkan ajaran-ajaran agama kutipan dari tokoh ternama dalam sejarah
dan peristiwa penting dalam peradaban manusia. Gagasan-gagasannya seolah berlaku
universal dan diperlukan di mana-mana."Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan
inilah harus menjadi pula gitamu: "Innallaha la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta
yu ghoiyiru ma biamfusihim" (Pidato 17 Agustus 1964) "Asal kita setia kepada
hukum sejarah dan asal kita bersatu dan memiliki tekad baja, kita bias
memindahkan Gunung Semeru atau Gunung Kinibalu sekalipun". (Pidato 17 Agustus
1965) "Tetapi Tanah Air kita Indonesia hanya satu bahagian kecil saja dari pada
dunia! Ingatlah akan hal ini! Gandhi berkata: "Saya seorang nasionalis, tetapi
kebangsaan saya adalah perikemanusiaan." (Pidato Lahirnya Pancasila, 1 Juni
1945) Strategi naturalisasi merupakan usaha menampilkan sebuah ideologi atau
kepercayaan sebagai sesuatu yang tampak alamiah. Ini banyak ditemukan dalam
pidato-pidato Soekarno. Penjelasan-penjelasannya tentang Pancasila sangat jelas
menggunakan naturalisasi. "Ke Tuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan, Peri
Kemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial. Dari zaman dahulu sampai zaman
sekarang ini, yang nyata selalu menjadi isi daripada jiwa bangsa Indonesia." (Pancasila
sebagai Dasar Negara, hal:38) Bukan hal yang aneh jika Soekarno berkembang
menjadi seorang ideolog. Kepercayaan sejak kecil tentang kemuliaan, kepeloporan
dan kepemimpinannya, mendorong kuat Bung Besar ini menyebarkan kebenarannya.
Gambaran diri yang fiktif dan mistis ini pula yang memberinya kepercayaan diri
tampil berapi-api di depan lautan massa. Pergerakan nasional

Pada tahun 1926, Soekarno
mendirikan Algemene Studie Club di Bandung. Organisasi ini menjadi cikal bakal
Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927. Pada tahun 1926 ini
pula terbit artikelnya yang terkenal "Nasionalisme, Islamisme dan marxisme"
dalam suluh Indonesia muda, pernyataan Soekarno dalam artikel tersebut "Bukan
kita mengharap yang nasionalis itu supaya berobah faham jadi Islamis atau Marxis,
bukannya maksud kita menyuruh Marxis dan Islamis itu berbalik menjadi Nasionalis,
akan tetapi impian kita yalah kerukunan, persatuan anatra tiga golongan itu".
ditulis akibat keprihatinan dia atas perseteruan SI putih pimpinan Agus Salim
dengan SI merah (Sarekat Rakyat) Semaun dkk. Aktivitas Soekarno di PNI
menyebabkannya ditangkap Belanda pada bulan Desember 1929, dan memunculkan
pledoinya yang fenomenal: Indonesia Menggugat, hingga dibebaskan kembali pada
tanggal 31 Desember 1931.

Pada bulan Juli 1932, Soekarno
bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI.
Soekarno kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933, dan

diasingkan ke Flores. Soekarno
baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.


Penjajahan Jepang


Pada awal masa penjajahan Jepang
(1942-1945), pemerintah Jepang sempat tidak memperhatikan tokoh-tokoh pergerakan
Indonesia terutama untuk "mengamankan" keberadaannya di Indonesia. Ini terlihat
pada Gerakan 3A dengan tokohnya Shimizu dan Mr. Syamsuddin yang kurang begitu
populer.

Namun akhirnya, pemerintahan
pendudukan Jepang memperhatikan dan sekaligus memanfaatkan tokoh tokoh Indonesia
seperti Soekarno, Mohammad Hatta dan lain-lain dalam setiap
organisasi-organisasi dan lembaga lembaga untuk menarik hati penduduk Indonesia.
Disebutkan dalam berbagai organisasi seperti Jawa Hookokai, Pusat Tenaga Rakyat
(Putera), BPUPKI dan PPKI, tokoh tokoh seperti Soekarno, Hatta, Ki Hajar
Dewantara, K.H Mas Mansyur dan lain lainnya disebut-sebut dan terlihat begitu
aktif. Dan akhirnya tokoh-tokoh nasional bekerjasama dengan pemerintah
pendudukan Jepang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, meski ada pula yang
melakukan gerakan bawah tanah seperti Sutan Syahrir dan Amir Sjarifuddin karena
menganggap Jepang adalah fasis yang berbahaya.

Presiden Soekarno sendiri, saat
pidato pembukaan menjelang pembacaan teks proklamasi kemerdekaan, mengatakan
bahwa meski sebenarnya kita bekerjasama dengan Jepang sebenarnya kita percaya
dan yakin serta mengandalkan kekuatan sendiri.

Ia aktif dalam usaha persiapan
kemerdekaan Indonesia, diantaranya adalah merumuskan Pancasila, UUD 1945 dan
dasar dasar pemerintahan Indonesia termasuk merumuskan naskah proklamasi
Kemerdekaan. Ia sempat dibujuk untuk menyingkir ke Rengasdengklok Peristiwa
Rengasdengklok.

Pada tahun 1943, Perdana Menteri
Jepang Hideki Tojo mengundang tokoh Indonesia yakni Soekarno, Mohammad Hatta dan
Ki Bagoes Hadikoesoemo ke Jepang dan diterima langsung oleh Kaisar Hirohito.
Bahkan kaisar memberikan Bintang kekaisaran (Ratna Suci) kepada tiga tokoh
Indonesia tersebut. Penganugerahan Bintang itu membuat pemerintahan pendudukan
Jepang terkejut, karena hal itu berarti bahwa ketiga tokoh Indonesia itu
dianggap keluarga Kaisar Jepang sendiri. Pada bulan Agustus 1945, ia diundang
oleh Marsekal Terauchi, pimpinan Angkatan Darat wilayah Asia Tenggara di Dalat
Vietnam yang kemudian menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah
urusan rakyat Indonesia sendiri.

Namun keterlibatannya dalam
badan-badan organisasi bentukan Jepang membuat Soekarno dituduh oleh Belanda
bekerja sama dengan Jepang,antara lain dalam kasus romusha.


Perang Revolusi


Soekarno bersama tokoh-tokoh
nasional mulai mempersiapkan diri menjelang Proklamasi kemerdekaan Republik
Indonesia. Setelah sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia
BPUPKI,Panitia Kecil yang terdiri dari delapan orang (resmi), Panitia Kecil yang
terdiri dari sembilan orang/Panitia Sembilan (yang menghasilkan Piagam Jakarta)
dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia PPKI, Soekarno-Hatta mendirikan
Negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Setelah menemui Marsekal
Terauchi di Dalat, Vietnam, terjadilah Peristiwa Rengasdengklok pada tanggal 16
Agustus 1945; Soekarno dan Mohammad Hatta dibujuk oleh para pemuda untuk
menyingkir ke asrama pasukan Pembela Tanah Air Peta Rengasdengklok. Tokoh pemuda
yang membujuk antara lain Soekarni, Wikana, Singgih serta Chairul Saleh. Para
pemuda menuntut agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan
Republik Indonesia, karena di Indonesia terjadi kevakuman kekuasaan. Ini
disebabkan karena Jepang sudah menyerah dan pasukan Sekutu belum tiba. Namun
Soekarno, Hatta dan para tokoh menolak dengan alasan menunggu kejelasan mengenai
penyerahan Jepang. Alasan lain yang berkembang adalah Soekarno menetapkan moment
tepat untuk kemerdekaan Republik Indonesia yakni dipilihnya tanggal 17 Agustus
1945 saat itu bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan, bulan suci kaum muslim yang
diyakini merupakan tanggal turunnya wahyu pertama kaum muslimin kepada Nabi
Muhammad SAW yakni Al Qur-an. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan
Mohammad Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik
Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan menjadi presiden dan wakil
presiden dikukuhkan oleh KNIP.Pada tanggal 19 September 1945 kewibawaan Soekarno
dapat menyelesaikan tanpa pertumpahan darah peristiwa Lapangan Ikada dimana
200.000 rakyat Jakarta akan bentrok dengan pasukan Jepang yang masih bersenjata
lengkap.

Pada saat kedatangan Sekutu (AFNEI)
yang dipimpin oleh Letjen. Sir Phillip Christison, Christison akhirnya mengakui
kedaulatan Indonesia secara de facto setelah mengadakan pertemuan dengan
Presiden Soekarno. Presiden Soekarno juga berusaha menyelesaikan krisis di
Surabaya. Namun akibat provokasi yang dilancarkan pasukan NICA (Belanda) yang
membonceng Sekutu. (dibawah Inggris) meledaklah Peristiwa 10 November 1945 di
Surabaya dan gugurnya Brigadir Jendral A.W.S Mallaby.

Karena banyak provokasi di
Jakarta pada waktu itu, Presiden Soekarno akhirnya memindahkan Ibukota Republik
Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Diikuti wakil presiden dan pejabat tinggi
negara lainnya.

Kedudukan Presiden Soekarno
menurut UUD 1945 adalah kedudukan Presiden selaku kepala pemerintahan dan kepala
negara (presidensiil/single executive). Selama revolusi kemerdekaan,sistem
pemerintahan berubah menjadi semi-presidensiil/double executive. Presiden
Soekarno sebagai Kepala Negara dan Sutan Syahrir sebagai Perdana Menteri/Kepala
Pemerintahan. Hal itu terjadi karena adanya maklumat wakil presiden No

X, dan maklumat pemerintah bulan
November 1945 tentang partai politik. Hal ini ditempuh agar Republik Indonesia
dianggap negara yang lebih demokratis.

Meski sistem pemerintahan
berubah, pada saat revolusi kemerdekaan, kedudukan Presiden Soekarno tetap
paling penting, terutama dalam menghadapi Peristiwa Madiun 1948 serta saat
Agresi Militer Belanda II yang menyebabkan Presiden Soekarno, Wakil Presiden
Mohammad Hatta dan sejumlah pejabat tinggi negara ditahan Belanda. Meskipun
sudah ada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dengan ketua Sjafruddin
Prawiranegara, tetapi pada kenyataannya dunia internasional dan situasi dalam
negeri tetap mengakui bahwa Soekarno-Hatta adalah pemimpin Indonesia yang
sesungguhnya, hanya kebijakannya yang dapat menyelesaikan sengketa
Indonesia-Belanda.


kemerdekaan


Setelah Pengakuan Kedaulatan (Pemerintah
Belanda menyebutkan sebagai Penyerahan Kedaulatan), Presiden Soekarno diangkat
sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Mohammad Hatta diangkat
sebagai perdana menteri RIS. Jabatan Presiden Republik Indonesia diserahkan
kepada Mr Assaat, yang kemudian dikenal sebagai RI Jawa-Yogya. Namun karena
tuntutan dari seluruh rakyat Indonesia yang ingin kembali ke Negara kesatuan,
maka pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS kembali berubah menjadi Republik
Indonesia dan Presiden Soekarno menjadi Presiden RI. Mandat Mr Assaat sebagai
pemangku jabatan Presiden RI diserahkan kembali kepada Ir. Soekarno. Resminya
kedudukan Presiden Soekarno adalah presiden konstitusional, tetapi pada
kenyataannya kebijakan pemerintah dilakukan setelah berkonsultasi dengannya.

Mitos Dwitunggal Soekarno-Hatta
cukup populer dan lebih kuat dikalangan rakyat dibandingkan terhadap kepala
pemerintahan yakni perdana menteri. Jatuh bangunnya kabinet yang terkenal
sebagai "kabinet semumur jagung" membuat Presiden Soekarno kurang mempercayai
sistem multipartai, bahkan menyebutnya sebagai "penyakit kepartaian". Tak jarang,
ia juga ikut turun tangan menengahi konflik-konflik di tubuh militer yang juga
berimbas pada jatuh bangunnya kabinet. Seperti peristiwa 17 Oktober 1952 dan
Peristiwa di kalangan Angkatan Udara.

Dengan Dekrit 5 Juli 1959,
Soekarno membubarkan Konstituante yang bertugas merancang UUD baru bagi
Indonesia, serta memulai periode yang dalam sejarah politik kita disebut sebagai
"Demokrasi Terpimpin". Peristiwa ini sangat penting, bukan saja karena menandai
berakhirnya eksperimen bangsa Indonesia dengan sistem demokrasi yang liberal,
tetapi juga tindakan Soekarno tersebut memberikan landasan awal bagi sistem
politik yang justru kemudian dibangun dan dikembangkan pada masa Orde Baru. Tapi
bukankah Soekarno amat berbeda dari Soeharto, pendiri Orde Baru yang
menggantikannya lewat serangkaian manuver politik sejak tahun 1965 yang hingga
kini masih banyak diselimuti misteri?Tentu banyak perbedaan antara Soekarno dan
Soeharto yang amat gamblang. Presiden pertama RI dikenal sebagai orator yang
ulung, yang dapat berpidato secara amat berapi-api tentang revolusi nasional,
neokolonialisme dan imperialisme. Ia juga amat percaya pada kekuatan massa,
kekuatan rakyat.

Hal tersebut nampak daam
ungkapannya "AKU ini bukan apa-apa kalau tanpa rakyat. Aku besar karena rakyat,
aku berjuang karena rakyat dan aku penyambung lidah rakyat." Pengakuan ini
meluncur dari Soekarno, Presiden RI pertama, dalam karyanya Menggali Api
Pancasila.

Dengan mengubur partai politik,
Soekarno menganggap bahwa bangsa Indonesia dapat kembali kepada "rel" revolusi
yang sejati dengan semangat persatuan, simpati Soekarno pada gerakan-gerakan
anti-imperialisme dan mungkin sebagai salah satu konsekuensi, penerimaannya pada
Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai aktor politik yang sah.

Adalah penting juga untuk
dicatat bahwa salah satu kekuatan pendukung utama upaya Soekarno untuk
memberlakukan Demokrasi Terpimpin adalah Angkatan Darat. Mengapa Angkatan Darat
mendukung upaya Soekarno? Jawabannya sebenarnya cukup sederhana. Ada persamaan
nasib antara Soekarno dan tentara di dalam sistem demokrasi liberal yang
mementingkan peranan partai dan parlemen, yakni keduanya tidak mempunyai akses
yang langsung terhadap jalannya roda pemerintahan.

Dengan kata lain, di luar jatuh
bangunnya kabinet dalam sistem liberal tahun 1950-an serta
pemberontakan-pemberontakan di daerah, baik Soekarno dan Angkatan Darat
mempunyai kepentingan nyata untuk membangun suatu sistem politik baru yang
memberikan mereka kekuasaan yang lebih langsung. Bisa dikatakan Soekarno tidak
puas sebagai presiden yang hanya bersifat figure-head, sedangkan Angkatan Darat
telah berkembang menjadi kekuatan yang juga tidak puas dalam peranan hanya
sebagai penjaga pertahanan dan keamanan belaka. Pembahasan terhadap
kepentingan-kepentingan konkret seperti ini tidak lazim ditemukan dalam
pelajaran sejarah di sekolah pada tahun 1950-an.

Perlu diingat pula bahwa, untuk
sebagian, penaklukan terhadap pemberontakan daerah telah menghasilkan suatu
pimpinan Angkatan Darat yang jauh lebih bersatu dibandingkan sebelumnya.
Jenderal Abdul Haris Nasution telah tampil sebagai pimpinan yang mampu untuk
meredam tantangan yang diajukan oleh komandan-komandan lokal yang memberontak
karena tidak senang dengan dominasi Jakarta/Jawa. Di samping itu, kondisi
darurat yang dicanangkan untuk menghadapi pemberontakan daerah telah menempatkan
banyak perwira militer sebagai administrator roda pemerintahan. Lebih jauh lagi,
nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing di tahun 1957-yang sebenarnya
dipelopori oleh serikat buruh-telah menempatkan banyak perwira militer di pucuk
pimpinan perusahaan-perusahaan negara yang terbesar. Diantaranya adalah Ibnu
Sutowo yang kemudian mengembangkan Pertamina.

Dengan posisi politik dan
ekonomi yang kuat seperti ini, tampaknya militer tergiur untuk mempunyai peranan
yang langsung di dalam system politik. "Demokrasi Terpimpin"-nya Soekarno
memberikan peluang. Di antara golongan "fungsional" atau "karya" yang boleh
duduk dalam parlemen adalah tentara.

Presiden Soekarno juga banyak
memberikan gagasan-gagasan di dunia Internasional. Keprihatinannya terhadap
nasib bangsa Asia-Afrika, masih belum merdeka, belum mempunyai hak untuk
menentukan nasibnya sendiri, menyebabkan presiden Soekarno, pada tahun 1955,
mengambil inisiatif untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang
menghasilkan Dasa Sila. Bandung dikenal sebagai Ibu Kota Asia-Afrika.
Ketimpangan dan konflik akibat "bom waktu" yang ditinggalkan negara-negara barat
yang dicap masih mementingkan imperialisme dan kolonialisme, ketimpangan dan
kekhawatiran akan munculnya perang nuklir yang merubah peradaban, ketidakadilan
badan-badan dunia internasional dalam pemecahan konflik juga menjadi
perhatiannya. Bersama Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser
(Mesir), Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), U Nu, (Birma) dan Jawaharlal Nehru
(India) ia mengadakan Konferensi Asia Afrika yang membuahkan Gerakan Non Blok.
Berkat jasanya itu, banyak negara-negara Asia Afrika yang memperoleh
kemerdekaannya. Namun sayangnya, masih banyak pula yang mengalami konflik
berkepanjangan sampai saat ini karena ketidakadilan dalam pemecahan masalah,
yang masih dikuasai negara-negara kuat atau adikuasa. Berkat jasa ini pula,
banyak penduduk dari kawasan Asia Afrika yang tidak lupa akan Soekarno bila
ingat atau mengenal akan Indonesia.

Guna menjalankan politik luar
negeri yang bebas-aktif dalam dunia internasional, Presiden Soekarno mengunjungi
berbagai negara dan bertemu dengan pemimpin-pemimpin negara. Di antaranya adalah
Nikita Khruschev (Uni Soviet), John Fitzgerald Kennedy (Amerika Serikat), Fidel
Castro (Kuba), Mao Tse Tung (RRT).

Masa-masa kejatuhan Soekarno
dimulai sejak ia "bercerai" dengan Wakil Presiden Moh. Hatta, pada tahun 1956,
akibat pengunduran diri Hatta dari kancah perpolitikan Indonesia. Ditambah
dengan sejumlah pemberontakan separatis yang terjadi di seluruh pelosok
Indonesia, dan puncaknya, pemberontakan G 30 S, membuat Soekarno di dalam masa
jabatannya tidak dapat "memenuhi" cita-cita bangsa Indonesia yang makmur dan
sejahtera.

Soekarno sendiri wafat pada
tanggal 21 Juni 1970 di Wisma Yaso, Jakarta, setelah mengalami pengucilan oleh
suksesornya yang "durhaka" Jenderal Suharto. Jenazahnya dikebumikan di Kota
Blitar, Jawa Timur, dan kini menjadi ikon kota tersebut, karena setiap tahunnya
dikunjungi ratusan ribu hingga jutaan wisatawan dari seluruh penjuru dunia.
Terutama pada saat penyelenggaraan Haul Bung Karno

*) Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber
oleh Tito Suhendro



Logo PDI Perjuangan (Logo PDI-P)

Minggu, 20 April 2014

Kata Jokowi Tentang Stiker Jokowi-JK



Minggu, 20 April 2014 | 15:04 WIB

Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Stiker yang bergambar bakal calon presiden Joko Widodo dan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla beredar di Taman Suropati, Minggu (20/4/2014) pagi. Warga terkejut dengan persebaran stiker tersebut.

JAKARTA, KOMPAS.com - Joko Widodo menanggapi santai beredarnya stiker Jokowi-Jusuf Kalla yang dibagikan oleh seorang pria di Taman Suropati, Minggu pagi tadi. Dia tidak merasa didahului, meski dia belum mengumumkan siapa bakal cawapres yang akan mendampinginya di Pilpres 2014.

"Iya enggak apa-apa, beredar saja. Tapi kan, sudah saya jawab, memang belum ada," kata Jokowi, di
Taman Suropati 7, Jakarta, Minggu (20/4/2014).

Jokowi mengatakan tindakan relawan untuk membagi-bagikan stiker Jokowi-JK itu bukanlah tindakan
yang "mendahului". Sebab, di masa demokrasi ini, setiap warga berhak untuk menyampaikan pendapatnya.

Jokowi berjanji, dia akan segera mengumumkan nama bakal cawapresnya jika memang sudah ditemukan. Dia tidak akan menyembunyikannya atau merahasiakannya. "Saya sih senang-senang terus. Kalau nanti memang sudah ada nama (cawapres)nya, saya kasih tahu, kayak dulu pas deklarasi capres," kata Jokowi.

Sekadar informasi, stiker itu dibagikan kepada warga yang sedang melakukan aktivitas di Taman Suropati,
Minggu (20/4/2014) pagi tadi. Stiker berukuran 5x5 centimeter itu memuat foto Jokowi dan JK sedang bersanding mengenakan jas dan peci hitam. Ada dua variasi dalam stiker yang dibagikan tersebut.

Pertama, "Jokowi-JK Fans Club siap mengusung Jokowi-Jusuf Kalla 2014 Serasi - Sederhana Cerdas Integritas. Indonesia Hebat Indonesia Baru Capres dan Cawapres Republik Indonesia 2014-2019". Kedua, stiker itu bertuliskan "Jokowi-JK Fans Club Siap Mengusung Jokowi-Jusuf Kalla. Gabungan Nusantara 2014-2019 Sederhana, Cerdas, Integritas".

Penulis : Kurnia Sari Aziza
Editor : Ana Shofiana Syatiri

Sumber Berita : Kompas.com

Artikel : PDI Perjuangan

Logo PDI Perjuangan (Logo PDI-P)

Indonesia Butuh Presiden yang tidak Emosional - 24 Maret 2014 20:25 wib


 Ilustrasi/MI/Atet Dwi Pramadia

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI) Ari Junaedi menilai Indonesia ke depan membutuhkan pemimpin yang tidak emosional.

Karena itu, sikap emosional sebagaimana ditunjukkan oleh calon presiden (capres) Partai Gerindra  Prabowo Subianto saat kampanye terbuka dan diduga sebagai sindiran ke capres Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) Joko Widodo (Jokowi) dengan istilah `Pemimpin Boneka` justru tidak akan mendapatkan simpati publik.

"Kestabilan emosi pemimpin bisa terlihat dari caranya dia berkomunikasi. Dengan Indonesia yang majemuk, butuh kesabaran pemimpin dalam  mengemong rakyatnya. Apa jadinya kita punya presiden pemarah?,"sergah Ari Junaedi, Senin (24/3).
Dia kemudian mengacu hasil penilaian para guru besar perguruan tinggi se Indonesia  soal calon pemimpin nasional yang dirilis Pool Tracking, yang menempatkan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Gubernur DKI Jakarta Jokowi sebagai pemeringkat atas.  Aspek-aspek penilaian selain kepemimpinan juga pada tingkat emosional pemimnpin.

Nama Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie berada di luar lima besar hasil penilaian para mahaguru berbagai disiplin ilmu yang terlibat dalam fokus group discusion Pool Tracking.

Ari Junaedi melihat hasil penilaian para guru besar tersebut memberikan paradigma baru penilaian capres mendatang. Penilaian tersebut makin memperkaya selera pemilih di pilpres mendatang.

"Hasil penilaian para guru besar tersebut menunjukkan aspek emosional para kandidat menjadi salah satu penilaian utama," jelas Ari.

Menurut pengajar Program Pascasarjana UI, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Dr Soetomo Surabaya, dan Universitas Persada Indonesia YAI Jakarta, tidak selalu persoalan Indonesia harus dihadapi dengan gaya komunikasi temperamental.

"Ada kalanya butuh komunikasi solutif, bukan sekadar komunikasi gertak sambal. Menurut saya, cara cara yang ditampilkan Prabowo jauh dari kaidah komunikasi solutif. Lebih banyak marahnya ketimbang komunikasi yang menyejukkan," ujarnya.

"Pemimpin butuh kestabilan emosi dan hal ini bisa dijadikan patokan pemilih untuk menentukan calon presidennya," imbuh peraih penghargaan World Customs Organization Sertificate of Merit 2014 karena pola pengajaran ilmu komunikasinya yang inspiratif.

Sedangkan politikus senior PDI Perjuangan Pramono Anung menilai apa pun dan siapa pun yang menyindir dan mengejek Jokowi sebagai bagian dari kampanye, sehingga itu memang sah-sah saja.

"Tetapi rakyat punya pilihan masing-masing, sekarang kan yang milih bukan elite, tetapi rakyat secara langsung sehingga semakin disindir, dijelek-jelekkan, dienyek-enyek, saya yakin kecintaan publik pada Jokowi malah meningkat," katanya.

Menurut Wakil Ketua DPR ini, sekarang masyarakat ingin politik santun, dengan nilai, ide, dan gagasan.

"Kalau marah-mmarah, masyarakat akan melihat secara langsung, jadi makin marah mereka (elite), makin baik untuk Pak Jokowi. Makin mengejek Jokowi, masyarakat makin baik buat Jokowi," jelas Pramono.(*)


(Agt)

Sumber Berita : metrotvnews.com

Logo PDI Perjuangan (Logo PDI-P)

Sabtu, 19 April 2014

PDI-P Sayangkan Demo Mahasiswa Sambut Jokowi di ITB



Kamis, 17 April 2014 | 16:17 WIB 

Fabian Januarius Kuwado Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo hendak memberikan kuliah umum di ITB, Bandung, Kamis (17/4/2014). Kedatangan Jokowi disambut unjuk rasa dengan diwarnai kericuhan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) menyayangkan adanya aksi demonstrasi mahasiswa saat Joko Widodo (Jokowi) datang ke Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Kamis (17/4/2014). Aksi demonstrasi itu dianggap berlebihan.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDI-P Achmad Basarah menjelaskan, kedatangan Jokowi ke ITB dalam kapasitasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta, bukan bakal calon presiden. Ia diundang oleh Rektor ITB Akhmaloka dalam rangka penandatanganan nota kerja sama antara Pemda DKI dengan ITB. Kerja sama itu adalah pencanangan Bandung sebagai smart city yang juga melibatkan DKI Jakarta.

"Protes yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa di Bandung pada kedatangan Jokowi ke kampus ITB dengan tuduhan politisasi kampus adalah sikap yang tidak sesuai kondisi obyektifnya," kata Basarah, dalam pernyataan tertulis, Kamis (17/4/2014).

Basarah mengatakan, Jokowi berhak memenuhi undangan tersebut karena kapasitasnya sebagai Gubernur DKI. Sebaliknya, jika tak memenuhi undangan tersebut, Jokowi akan dianggap tak menjalankan tugasnya sebagai gubernur.

"Saat ini juga bukan masa kampanye pilpres, dan memang belum dimulai," kata Basarah.

Diberitakan sebelumnya, kedatangan Jokowi di Kampus ITB, Bandung, Kamis (17/4/2014), disambut demonstrasi ratusan mahasiswa. Kericuhan sempat mewarnai aksi demonstrasi tersebut.

Berdasarkan pantauan Kompas.com, Jokowi, yang berada satu mobil dengan Rektor ITB Akhmaloka serta rombongan, hendak masuk ke dalam kampus. Rupanya, ratusan mahasiswa itu telah menduduki akses masuk kampus terlebih dahulu. Ratusan mahasiswa berkerumun di tepi jalan. Ada yang membentangkan spanduk bertuliskan "tolak politisasi kampus".

Saat rombongan Jokowi dan rektor hendak masuk ke dalamnya, kericuhan terjadi. Mobil pengawal pribadi Jokowi yang ada paling depan jadi bulan-bulanan teriakan mahasiswa. Mahasiswa memblokir jalannya mobil itu dengan spanduk sambil berteriak-teriak. Polisi dan para petugas keamanan kampus berhasil membuat para mahasiswa mundur.


Sumber Berita : Kompas.com

Logo PDI Perjuangan (Logo PDI-P)

Jokowi Disambut Demo Mahasiswa di Kampus ITB




Kompas.com Kamis, 17 April 2014 | 13:48 WIB 
Fabian Januarius Kuwado Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo hendak memberikan kuliah umum di ITB, Bandung, Kamis (17/4/2014). Kedatangan Jokowi disambut unjuk rasa dengan diwarnai kericuhan.

BANDUNG, KOMPAS.com — Kedatangan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Kamis (17/4/2014), disambut unjuk rasa ratusan mahasiswa. Kericuhan sempat mewarnai aksi demonstrasi tersebut. 

Berdasarkan pantauan Kompas.com, Jokowi, yang berada satu mobil dengan Rektor ITB Akhmaloka serta rombongan, hendak masuk ke dalam kampus. Rupanya, ratusan mahasiswa itu telah menduduki akses masuk kampus terlebih dahulu.

Ratusan mahasiswa berkerumun di tepi jalan. Ada yang membentangkan spanduk bertuliskan "tolak politisasi kampus". Saat rombongan Jokowi dan rektor hendak masuk ke dalamnya, kericuhan terjadi. Mobil pengawal pribadi Jokowi yang ada paling depan jadi bulan-bulanan teriakan mahasiswa. 


Mahasiswa memblokir jalannya mobil itu dengan spanduk sambil berteriak-teriak. Polisi dan para petugas keamanan kampus berhasil membuat para mahasiswa mundur.

Di tengah kericuhan, mobil yang dinaiki Jokowi dan rektor ITB tak jadi masuk kampus. Mobil sedan hitam itu melaju menuju Jalan Ir H Juanda dan masuk ke kediaman dinas rektorat. Sementara mobil Jokowi dan rektor pergi, mobil pengawal Joko Widodo masih terjebak di kerumunan mahasiswa. Sekitar 10 menit kemudian, mobil itu baru bisa keluar dari barikade mahasiswa.

Jokowi datang ke kampus tersebut untuk memberikan kuliah umum di depan ratusan mahasiswa. Belum diketahui, apakah insiden tersebut membuat bakal capres dari PDI Perjuangan ini jadi melaksanakan kuliah umum atau tidak.


Sumber Berita : Kompas.com
Logo PDI Perjuangan (Logo PDI-P)

Alumni ITB Deklarasikan Dukungan untuk Jokowi



Sabtu, 19 April 2014 | 16:52 WIB 
Kompas.com/Meidella Syahni Sekitar 500 an alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) menyatakan dukungannya kepada calon presiden dari PDI-P Joko Widodo. Dalam deklarasi yang disampaikan Sabtu (19/4/2014) di Jakarta, komunitas alumni ITB bertekad memenangkan Jokowi menjadi Presiden RI 2014-2019.

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekitar 500 an alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) menyatakan dukungannya kepada calon presiden dari PDI-P Joko Widodo. Dalam deklarasi yang disampaikan Sabtu (19/4/2014) di Jakarta, komunitas alumni ITB bertekad memenangkan Jokowi menjadi Presiden RI 2014-2019. 

"Kami percaya bahwa Jokowi akan mengutamakan dialog ketimbang monolog. Menjauhkan kita dari ketakutan dan teror, menegakkan kemanusiaan dan penghormatan akan HAM. Memberikan kesempatan yang sama terhadap setiap orang dan memastikan tidak ada yang terabaikan dalam upaya memperbaiki kesejahteraan rakyat," ujar Ammarsjah Koordinator Komunitas Alumni ITB. 

Deklarasi yang diikuti alumni dari tahun 1970 hingga 2005 dari berbagai jurusan ini, katanya, berangkat dari keprihatinan luar biasa dari para alumni terkait nama-nama calon presiden yang muncul selama masa pemilihan legislatif. Mereka menilai Jokowi satu-satunya calon presiden yang tidak pernah terlibat dosa masa lalu. 

Lebih lanjut Ammar mengatakan, masalah yang dihadapi Indonesia saat ini adalah akibat kesalahan masa lalu. Karena itu, katanya, tidak mungkin masyarakat akan mengembalikan negara ini kepada mereka orang-orang orde lama.

"Sebagian dari kita disini dulu pernah merintis petisi menolak Soeharto. Hari ini dengan mendukung Jokowi, dengan kata lain kita membuat petisi menolak menantu Soeharto. Jangan sampai sepuluh tahun lagi kita membuat petisi menolak cucu Soeharto," tandasnya. 

Meski banyak pihak yang meragukan kemampuan Jokowi, komunitas ini memandang persoalan bangsa memang tidak bisa diselesaikan oleh satu orang dalam satu periode. "Jangan sampai kita alergi pada kekuasaan lalu meninggalkan peluang untuk perbaikan. Kalau ada yang mengatakan Jokowi tidak punya visi kami tidak sepakat. Bagaimana bisa orang yang tidak punya visi bekerja menata kota Solo dan Jakarta seperti itu," katanya lagi. 

Terkait penolakan sejumlah mahasiswa ITB terhadap Jokowi beberapa hari lalu, alumni lainnya, Firdaus Ali mengatakan deklarasi ini tidak ada hubungannya dengan penolakan tersebut. Ia juga menegaskan dukungan ini tidak akan menjadi momentum sesaat. "Hari ini kita nyatakan dukungan, kalau nanti Jokowi mengecewakan kita akan bertemu lagi untuk meluruskan dia," katanya.

Penulis: Meidella Syahni
Editor : Wisnubrata

Sumber Berita : Kompas.Com
 
Logo PDI Perjuangan (Logo PDI-P)

Jokowi Telah Kerucutkan Nama Cawapres Idealnya

Jumat, 18 April 2014 | 16:50 WIB

Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo saat meninjau pengerjaan tol layang Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (16/4/2014).

JAKARTA, KOMPAS.com — Bakal calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Joko Widodo mengaku telah mengantongi nama calon wakil presiden pendampingnya.

Menurut Jokowi, ia sendiri yang akan memutuskan siapa cawapres yang akan mendampinginya dalam Pemilu Presiden (Pilpres) 2014. "Sudah mengerucut (nama cawapres). 

Tapi, tetap belum (diputuskan)," kata Jokowi, di rumah dinasnya, di Taman Suropati 7, Jakarta, Jumat (18/4/2014).

Jokowi menjelaskan, cawapresnya dapat datang dari kalangan mana pun. Baik dari kalangan militer, profesional, maupun ahli ekonomi. Selain itu, Jokowi juga membuka peluang bahwa calon wakil presidennya bisa datang dari kaum muda ataupun tokoh yang sudah tua.

Alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu juga tak memandang cawapresnya dari jenis kelamin. "Pokoknya semuanya (masuk) hitungan. Yang pasti keputusannya ada di saya," kata Jokowi.
Berulang kali pula, Jokowi memberi sinyal akan mengumumkan lima nama kandidat cawapresnya. Kendati demikian, hingga kini, Jokowi belum mengumumkannya.

Sebelumnya diberitakan, Sekjen DPP PDI-P Tjahjo Kumolo mengatakan bahwa pihaknya selektif untuk menentukan calon wakil presiden yang bakal mendampingi Jokowi. Kriteria pertama adalah sosok yang memiliki komitmen menjadi wakil presiden selama lima tahun dan mampu memosisikan diri untuk tidak melampaui kewenangan presidennya.

Kriteria selanjutnya, bakal cawapres harus mampu memperkuat sistem presidensial, memiliki program pro-rakyat dan bersungguh-sungguh mengimplementasikan Trisakti Bung Karno. 

Nama-nama figur yang mengemuka antara lain mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD; Ketua KPK Abraham Samad; Menko Perekonomian Hatta Rajasa; mantan KSAD TNI, Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu; Panglima TNI Jenderal Moeldoko; serta Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.


Penulis : Kurnia Sari Aziza
Editor : Bambang Priyo Jatmiko

Sumber Berita : Kompas.com

Resmi, Nasdem Dukung Pencapresan Jokowi

Sabtu, 12 April 2014 | 13:22 WIB

Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Partai Nasdem resmi berkoalisi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dalam Pilpres 2014. Tampak dalam foto, bakal calon presiden PDI-P Joko Widodo bersama Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh sedang aaling bergenggaman tangan, di DPP Nasdem, Sabtu (12/4/2014).

JAKARTA, KOMPAS.com -- Partai Nasdem resmi berkoalisi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dalam mengusung Joko Widodo sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden 2014. Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh mengatakan, kesepakatan itu diambil sambil menunggu hasil penghitungan resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU).

"Kami, Partai Nasdem, sepakat merapatkan barisan persiapan mendukung calon presiden dari PDI-P yang tepat berada di samping kanan saya, Mas Joko Widodo," kata Surya Paloh dalam konferensi persnya di kantor DPP Nasdem, Jakarta Pusat, Sabtu (12/4/2014).

Paloh menjelaskan, dukungan ini akan terus dibahas lebih lanjut di internal partai maupun dengan pihak luar partai selama dua hingga tiga hari ke depan. Adapun pihak luar partai yang dimaksud oleh Paloh adalah Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri.

Menurut Paloh, keputusan Partai Nasdem untuk berkoalisi dengan PDI-P karena sama-sama memiliki platform dan garis perjuangan untuk melakukan perubahan serta restorasi bangsa Indonesia menjadi yang lebih baik lagi. Selain itu, kata dia, Partai Nasdem juga bertekad untuk membuat Indonesia menjadi Indonesia Hebat sesuai dengan tagline yang diusung PDI-P.

Partai Nasdem, lanjut Paloh, juga ingin bersama PDI-P memperkokoh pemerintahan Indonesia dengan sistem presidensial.  

"Pak Jokowi juga secara khusus memberikan apreisiasi tentang hasil dan prestasi yang dicapai oleh Partai Nasdem di pileg kemarin," kata Paloh.

Selain Paloh dan Jokowi, pertemuan itu turut dihadiri oleh Sekjen PDI-P Tjahjo Kumolo dan Sekjen Partai Nasdem Patrice Rio Capella. Pertemuan yang tertutup bagi awak media itu berlangsung selama lebih kurang 75 menit.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis : Kurnia Sari Aziza
Editor : Hindra Liauw

Rabu, 26 Maret 2014

PDI Perjuangan: Biar Saja Jokowi Dicela


maruarar-sirait-050114

Jakarta – Ketua DPP PDI-P Maruarar Sirait mengatakan, ada pro dan kontra Jokowi dicalonkan menjadi presiden. Meski begitu, menurutnya, survei tetap menunjukkan Jokowi paling banyak dipilih masyarakat.

“Kalau boleh jujur, kompetitor Jokowi pasti adalah yang ingin Jokowi bertahan (jadi gubernur),” ujar Maruarar seusai rilis Survei Mengukur Kualitas Personal Para
KandidatCapres-Cawapres 2014, di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Minggu (23/3/2014).

Maruarar mengatakan, partainya harus mengkaji pandangan-pandangan tersebut. Menurutnya, mayoritas penduduk Indonesia menginginkan Jokowi menjadi presiden. Ia menuturkan, bukti dari survei-survei menunjukkan Jokowi selalu teratas.

Ia juga mengatakan tidak bisa mengambil kesimpulan dari peristiwa-peristiwa kecil seperti orang-orang yang kontra Jokowi nyapres. Menurutnya, survei tahun ini sudah stabil dan Jokowi selalu yang paling banyak dipilih.

Ia berharap tahun 2014 menjadi tahun rekonsiliasi. Sebab, menurutnya, Indonesia sudah banyak menghabiskan waktu untuk pertarungan elite politik. Ia menambahkan, saat ini Indonesia perlu seorang presiden yang mampu merangkul kekuatan, baik masyarakat maupun elite politik, agar pembangunan dapat berlangsung efisien.

Menurutnya, diajukannya Jokowi menjadi capres karena PDI-P menempatkan pilihan masyarakat di atas partai. “Biar saja dia diserang. Biar matang, dewasa. Presiden pasti punya kekurangan. Tapi, apa Jokowi diam saja?” ujarnya.

<sumber: kompas.com>

http://waraswasistojabar.com/pdi-perjuangan-biar-saja-jokowi-dicela.html

PDIP: Tiga Agenda Utama Kepemimpinan Nasional Mendatang


hasto-tjahjo-020214

BALI — Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan ada tiga agenda utama PDI Perjuangan pada konsep kepemimpinan nasional mendatang.

“Pasangan pemimpin nasional mendatang, yang terpenting mampu mengatasi tiga agenda utama meliputi kewibawaan negara, pertumbuhan ekonomi, serta kerukunan masyarakat,” kata Hasto Kristiyanto menjelang kampanye terbuka di Lapangan Kopral I Wayan Surem, di Desa Blahkiuh, Kabupaten Badung, Bali, Sabtu (22/3).

Hasto menjelaskan, dari ketiga agenda utama tersebut adalah, pertama, pasangan pemimpin nasional mendatang mampu mengatasi kewibawaan negara yang merosot.

Dengan meningkatkan kewibawaan negara, kata dia, sejalan dengan peningkatan kedaulatan Indonesia di dunia internasional.

Kedua, mampu mengatasi persoalan ekonomi, seperti persoalan pangan, energi, ketenagakerjaan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi.

Menurut Hasto, PDI Perjuangan menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini hanya pada tataran makro, tapi tidak berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat. “Realitasnya, masih banyak rakyat hidup miskin,” katanya.

Kemudian ketiga, kata dia, mampu mengatasi persoalan intoleransi di tengah masyarakat. Hasto menjelaskan, bangsa Indonesia yang dulu dikenal sebagai bangsa yang ramah tapi saat ini keramahan tersebut telah luntur. “Bentrok antar kelompok masyarakat lebih sering terjadi,” katanya.

Menurut dia, pemimpin mendatang harus mampu menciptakan suasana kondusif di tengah masyarakat, sehingga masyarakat hidup rukun dan toleran.

<sumber: republika.co.id>

http://waraswasistojabar.com/pdip-tiga-agenda-utama-kepemimpinan-nasional-mendatang.html

Selasa, 25 Maret 2014

Jokowi Ingatkan Pilih Caleg yang Tidak Banyak Janji


capres-pdip-jokowi-220314

BANDARLAMPUNG — Calon Presiden Partai Demokrasi Indonesia (PDI-P) Joko Widodo(Jokowi) mengingatkan masyarakat agar memilih calon legislatif yang tidak banyak mengumbar janji.

“Yang dilihat dari seorang pemimpin itu apa? Kerjanya! Bukan hanya janji-janji. Janji-janji udah kebanyakan. Rakyat ingin lihat pemimpin kerja. Kalau pemimpin kerja, gak akan ada jalan rusak seperti itu. Itu yang baru saya lihat, yang lain gak tahu,” kata Jokowi di Lampung Tengah, Sabtu (22/3).

Jokowi berjanji jika PDI-P menang mutlak di Lampung maka tidak akan ada jalanan yang rusak. “Kalau nanti PDI-P menang di Lampung, masalah jalan itu kecil. Kan duit APBD banyak, tapi ra teko nggon (tidak sampai sasaran),” kata Jokowi saat orasi di Lapangan Rejo Basuki, Seputih Raman, Lampung Tengah.

Lebih lanjut, Jokowi meminta masyarakat agar pintar dalam memilih wakil rakyat saat pemilu legislatif (pileg) maupun saat pemilihan presiden(pilpres). “Saya hanya mengingatkan, ini tahun penentuan. Kalau salah pilih presiden atau caleg, nunggunya masih lima tahun, kesuen(kelamaan),” katanya.

Masyarakat, menurut Jokowi, hendaknya memilih pemimpin yang tidak hanya beri janji tapi kerja nyata. Sebelum melakukan kampanyeterbuka, Jokowi berhenti di daerah pasar Kota Gajah, Kabupaten Lampung Tengah untuk menyapa warga.

Setelah itu Jokowi, ditemani calon gubernur Lampung dari PDI-P, Berlian Tihang, mampir ke sebuah warung bakso Metro di pasar Kota Gajah untuk makan dan minum. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Lapangan Rejo Basuki. Dalam perjalanan tersebut, jalan yang dilalui rombongan rusak parah.

<sumber: republika.co.id>

http://waraswasistojabar.com/jokowi-ingatkan-pilih-caleg-yang-tidak-banyak-janji.html

Inilah Alasan Megawati Berikan Mandat Buat Jokowi


megawati-jokowi-070114

Badung – Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri membuka rahasia mengapa memberikan mandat calon presiden kepada Joko Widodo atau Jokowi.

“Kenapa saya memilih Jokowi untuk diberikan mandat sebagai calon presiden. Karena Jokowi tidak hanya populer, tapi dia bekerja, tulus, memiliki komitmen, dan kepribadiannya sederhana,” kata Megawati dalam orasinya pada kampanye terbuka di Lapangan Kopral I Wayan Surem di Kabupaten Badung, Bali, Sabtu (22/3).
Megawati menjelaskan dirinya sudah mengamati Jokowi dan gaya kepemimpinannya sejak masih menjadi Wali kota Solo dan kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Menurut dia, Jokowi tipikal pekerja keras yang bekerja dengan tulus untuk membangun masyarakat dan daerahnya.

Selain itu Jokowi, juga berkepribadian sederhana dan perilakunya apa adanya.

“Dengan kondisinya, Jokowi menjadi populer di berbagai daerah di Indonesia. Kalau kemudian Jokowi populer, bukan karena pencitraan untuk mencari popularitas, tapi memang sudah karakter dan kepribadiannya seperti itu,” katanya.

Presiden kelima Republik Indonesia ini menjelaskan, Indonesia adalah kaya baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia, sehingga jika dikelola dengan baik maka akan menjadi Indonesia hebat, yakni negara yang diperhitungkan di dunia.

Menurut Megawati, menjadi pemimpin Indonesia tidaklah mudah, karena tidak bisa dengan cara curang.
“Pemimpin bukan sekadar presiden, tapi tokoh yang memiliki mata hati, mengayomi, adil, dan jujur. Itu figur yang saya cari,” tegas Mega.

Menurut dia, pemimpin juga harus memilki komitmen dan kepedulian untuk mensejahterakan rakyat.
Megawati mengakui, dirinya sudah menginventarisasi beberapa nama untuk diusung sebagai calon presiden tidak ada yang cocok karena ada saja kelemahannya, sampai akhirnya muncul si kerempeng.

“Tapi walaupun kerempeng dia sesungguhnya bertenaga banteng. Dia adalah Jokowi,” katanya.

Megawati menjelaskan, suatu hari saya bertanya pada Jokowi, “Kamu mau jadi presiden?”.

Jokowi menjawab, “Kalau ditugasi ibu, saya siap. Saya ini petugas partai”.

<sumber: beritasatu.com>

http://waraswasistojabar.com/inilah-alasan-megawati-berikan-mandat-buat-jokowi.html

Kamis, 20 Maret 2014

PDIP Tentukan Cawapres Setelah Pemilu Legislatif

Bekasi – Juru Kampanye Nasional PDI Perjuangan (PDIP) , Waras Wasisto mengatakan ada beberapa skenario yang bakal dibangun PDI Perjuangan. Waras menuturkan, untuk menggaet calon Wakil Presiden (cawapres) setelah menetapkan Jokowi sebagai capres akan ditentukan setelah Pemilu Legislatif (Pileg 2014).
Menurut Waras, penunjukan cawapres dilakukan setelah pemilu legislatif (pileg) berdasarkan hasil perolehan suara. Dia menambahkan, Bila PDIP sukses meraih 25 persen suara nasional atau 20 persen kursi di parlemen, partai berlambang banteng moncong putih itu dipastikan menunjuk cawapres dari internal partai.
“Penentuan cawapres dilakukan kemungkin setelah pileg. Mengingat belum ada hasil pileg sebagaimana ketentuan dalam presidential threshold yang harus di hasilkan oleh PDI Perjuangan,” ujar Caleg DPRD Jawa Barat ini di Jakarta, Kamis (20/3/2014).

Dalam orasinya di hadapan 12. 000 kader moncong putih, waras mengatakan, cawapres harus berasal dari internal PDIP karena trah Soekarno. Sesuai perintah ketua umum PDI Prjuangan, kata Waras, PDI Perjuangan saat ini hanya fokus pada pemenangan pemilu legislatif 2014, meski di internal PDI Perjuangan banyak tokoh internal parpol yang mumpuni bisa jadi Cawapres seperti, Puan Maharani, Prananda Prabowo atau senior partai yang di restui Ketua Umum.

“Saat ini yang penting, masyarakat yang mendukung Jokowi harus bertanggung Jawab bisa memenangkan PDI Perjuangan di Pemilu Legislatif yang akan di gelar 9 April mendatang,” ujarnya. (A-194/A-147)

sumber: pikiran-rakyat.com

Dikutip dari Blog Waraswasistojabar.com

Logo PDI Perjuangan (Logo PDI-P)

Sabtu, 15 Maret 2014

Aroma Kekuasaan Mulai Menguar dari Lenteng Agung?

Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Megawati Soekarnoputri (kanan) bersama Puan Maharani (kiri), dan Sekjen PDIP, Tjahyo Kumolo setibanya di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Jumat (10/1). PDIP kemarin memperingati 41 tahun berdirinya partai banteng tersebut yang dihadiri pimpinan dan kader partai, antara lain Hasto Kristanto, Joko Widodo dan Rano Karno. Kompas/Lucky Pransiska (UKI)

JAKARTA, KOMPAS.com — Hujan baru saja reda, Kamis (13/3/2014) petang, setelah seharian mengguyur sebagian wilayah Jakarta. Hiruk-pikuk yang sempat tertunda karenanya, kembali menyala. Tak terkecuali di Kantor DPP PDI Perjuangan, di Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Rapat rutin berlangsung di markas partai itu. Semua pimpinan pengurus pusat hadir, termasuk Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. Keramaian justru semakin menjadi, saat warna langit meredup.

Puluhan pewarta dari berbagai media ikut mengawal agenda rapat, meski hanya dari luar ruangan. Rumor yang beredar, rapat ini bakal memutuskan siapa calon presiden dan wakil presiden yang akan diusung PDI-P.

Pada Kamis sore, Sekretaris Jenderal DPP PDI-P Tjahjo Kumolo sebenarnya telah membuat pernyataan tertulis. Dia membantah rumor tersebut. Menurut Tjahjo, rapat hanya menyertakan kalangan internal dan semata membahas pemenangan pemilu legislatif.

Namun, apa mau dikata, rumor kerap kali lebih dipercaya dan sudah telanjur menyebar cepat. Untuk memastikan benar atau tidaknya, para pewarta berjaga. Apalagi, banyak wajah yang tak setiap saat muncul ke ranah publik terkait partai ini, hadir di sana.

Ada pula wajah-wajah asing berpakaian rapi yang belakangan tiba. Tak sedikit dari mereka datang menumpang mobil mewah. Ternyata, benar saja, mereka adalah tamu spesial untuk rapat malam itu.

Wajah-wajah asing ini ternyata para pengusaha yang rata-rata berasal dari DKI Jakarta. Macam-macam usahanya. Ada pengusaha kelontong, elektronik, telekomunikasi, juga properti. Tjahjo belakangan mengatakan, ada 75 tamu terjadwal hadir dengan 60 di antaranya adalah pengusaha.

Menurut Tjahjo, para tamu itu berdatangan bukan karena diundang, melainkan berbekal inisiatif masing-masing. Mereka, ujar dia, ingin mendengar platform partai. Dukungan, tentu saja ada, dan Tjahjo pun tak menampiknya.

Meski demikian, Tjahjo mengatakan pula bahwa kalaupun ada bantuan dana hendak digelontorkan para pengusaha ke partainya, aturan harus tetap diikuti. Apalagi, kata dia, bagi PDI-P bantuan nyata bukanlah berupa uang, melainkan suara. "Kami partai kecil. Sumbangan yang paling berarti buat kami bukan uang tapi suara," ujar dia.

Malam itu, rapat rutin, tetapi tidak biasa tersebut, berlangsung selama dua jam. Megawati datang sedikit terlambat, barangkali karena hujan. Itu pun hanya satu jam dia berada di sana untuk kemudian berlalu bersama Wakil Sekretaris PDI-P Hasto Kristiyanto.

Seusai pertemuan, beberapa pengusaha bertutur bahwa rapat memaparkan kondisi Indonesia hari ini. Menurut mereka, tak ada pembicaraan soal calon presiden. PDI-P, imbuh mereka, hanya meminta dukungan untuk memenangkan pemilu.

Wakil Sekretaris PDI-P Eriko Sotarduga tak menampik penuturan para pengusaha itu. Dia mengatakan para pengusaha adalah aset berharga. Bukan dari uang, sekali lagi, melainkan dari potensi sumbangan suara para karyawan pengusaha itu.

Eriko mengatakan wajar partainya berharap pengusaha dan karyawan mereka mendukung PDI-P. Lagi pula, ujar dia, permintaan dukungan yang sama juga mereka sampaikan kepada masyarakat sipil. "Kami meminta dukungan utuh. Kami juga menerima masukan," kata dia.

Ibarat kembang, PDI-P adalah salah satu bunga yang diperkirakan bakal mekar pada Pemilu 2009. Layaknya kembang, sari madu di putiknya jelas menggoda para kumbang. Dalam hal ini, bisa jadi madu dan putik itu adalah kekuasaan sebagai hasil Pemilu 2014, dengan para pengusaha maupun tamu-tamu istimewa lainnya adalah para kumbang yang hendak mencicip nikmat darinya.

Setelah dua periode menjadi oposisi, PDI-P bak kembang paling menggoda menurut survei dan pakar. Lagi pula, kalau memang tak ada potensi kemenangan digenggam partai ini, mungkinkah begitu banyak tamu istimewa berdatangan? Lima tahun lalu, rasanya pun tak sesemarak itu. Bisa jadi, dari Lenteng Agung sudah menguar aroma kekuasaan...
KOMPAS.com

PDI-P Sebarkan Logo "Jokowi Presiden"

JAKARTA, KOMPAS.com — Segera setelah Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menyatakan mendapat mandat menjadi calon presiden, PDI Perjuangan langsung menyebarkan logo dukungan untuk Jokowi. Melalui akun Twitter @pdi_perjuangan, partai berlambang banteng itu memasang logo "Jokowi Presiden".
"Silakan gunakan logo ini sebagai dukungan kepada Jokowi dalam rupa avatar atau profile picture akun anda #JKW4P," sebut akun tersebut, Jumat (14/3/2014) pukul 15.03 WIB.

Sebelumnya Jokowi menyatakan telah mendapat mandat dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri untuk menjadi capres dari PDI Perjuangan. Pengumuman itu disampaikan saat ia melakukan blusukan di Rumah Pitung di Marunda, Jakarta Utara, Jumat (14/3/2014).

"Dengan mengucap bismillah saya siap melaksanakan," kata Jokowi sekitar pukul 14.49 WIB.

Setelah itu, Jokowi mencium bendera Merah Putih yang ada di belakangnya. Para wartawan dan warga yang ada di sekitar tersebut langsung bertepuk tangan.


Capres PDI Perjuangan 2014-2019

JAKARTA, KOMPAS.com — Tidak ada yang menyangka Gubernur DKI Jakarta mendeklarasikan diri siap menjadi calon presiden dari PDI Perjuangan di Rumah Si Pitung, Marunda, Jakarta Utara. Namun, Jokowi mengaku punya alasan mengapa lokasi yang dipilih adalah rumah jagoan Betawi itu.

"Karena ini simbol perlawanan," kata Jokowi pelan, menjawab pertanyaan wartawan, di Rusun Marunda, Jumat (14/3/2014).

"Perlawanan akan apa, Pak?" tanya wartwan.

Namun, Jokowi tidak menjawab. Dia hanya tersenyum saja.

Kemudian, dari Rusun Marunda, Jokowi bersama rombongan langsung berangkat untuk melakukan peletakan batu pertama Waduk Marunda. Tidak terlihat petinggi PDI Perjuangan dalam rombongan tersebut.


CAPRES PDI Perjuangan 2014-2019

JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menyatakan siap menjadi calon presiden dari PDI Perjuangan. Dia mengaku sudah menerima mandat dari Megawati Soekarnoputri.

"Saya telah mendapatkan mandat dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri untuk menjadi capres dari PDI Perjuangan," kata Jokowi saat melakukan blusukan di Rumah Pitung di Marunda, Jakarta Utara, Jumat (14/3/2014).

"Dengan mengucap bismillah, saya siap melaksanakan," kata Jokowi lagi, sekitar pukul 14.49 WIB.

Kemudian, Jokowi mencium bendera Merah Putih yang ada di belakangnya.

Para wartawan dan warga yang ada di sekitar tersebut langsung bertepuk tangan. "Alhamdulillah," kata mereka.

V